Bridge hammer 4 or ponulele often called the bridge is a bridge located in the city of Palu, Central Sulawesi, Indonesia. The bridge was inaugurated in May 2006 by President Susilo Bambang Yudhoyono. This bridge extends over the Gulf is located in the village of Talise Besusu and Lere, which connects East and Palu Palu district of West. Yellow bridge is a curved bridge in Indonesia's first and third in the world after Japan and France.
bridge is now back dibenah. All the lights are broken bridge repair or replacement cost tens to hundreds of millions of rupiah. Now, Hammer IV Bridge lights shine again, adding more and more beautiful scenery at night above the river mouth of Palu. Lamp repair the bridge, do not actually need to happen when unscrupulous elements in society-conscious city of Palu importance of protecting and maintaining the assets of the city. Hammer IV Bridge has now become an icon of beauty Palu city.
For people who live in Palu, the presence of Palu IV Bridge may be considered normal, given the cross and visits every day. But, for those who occasionally set foot in the town of Palu Palu bridge IV is a position which he described the Hammers in the dimension of three dimensions. Cities mountains, ocean city, as well as the valley city. Very rarely other cities in Indonesia this beautiful province's capital position. It is unfortunate, because the public facilities that we have not guarded and not treated. Even the hands of ignorant irresponsible, it tends to do vandalism.
For the security of their assets which is also the city as a tourist attraction, the Police Civil Service should be given the task of alternately, in addition to state police. For those who seized the hand doing destruction to be processed legally, despite there may be some people who perform acts of vigilantism. This way is not justified, although understandably there are actors who eventually caught red-handed. They, who should maintain the beauty and assets of the city, it should be criminal vandalism. It's very sad, unscrupulous elements are still there like that.
Lamp repair bridges IV did not have to happen. Even that much money can be allocated for other purposes. But unfortunately, for the Hammers are still a small town citizens are still suspected that there was no feeling of belonging. They really could do the destruction in the presence of Palu IV Bridge capable of lifting the image of the tourism town of Palu. It is time the City Government to show its ability in maintaining the assets of the city, especially in the light bridge which costs relatively expensive. Sat Pol PP so far it only seemed great at the eviction of street vendors (K-5), the time is maximized in asset protection roles, including maintaining security in Palu IV Bridge.
We hope that with these improvements, there is no longer forward the hands of ignorant a chance to do something very shameful. All citizens should be proud of the existence of Palu Palu IV Bridge so it is very unfortunate if such an expensive asset and as beautiful as it is still undermined by those who do not feel as citizens of Palu. Combating the individual that committed vandalism of public facilities, is a duty and responsibility of us all. When finally there was vandalism IV Bridge lights to the front, then this becomes an indicator when the municipal government and the security guard did not menyeriusi Hammer IV Bridge both us proud. If necessary, a shift of care systems must be managed by Pol PP for security and safety lighting Palu Bridge IV
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sulawesi Tengah. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 April 2010
Togian Island is one of the islands included in the region Unauna Tojo
Togian Island is one of the islands included in the region Unauna Tojo, a breakaway from the Poso district of the newly created at the beginning of the year 2004. Some actions that can be done in the tourist island of Togian include: Diving & snorkelling (Kadidiri Island); Fishing, and explore the natural forests in the forest in Malenge Island, or you can visit Colo volcano on Una-una Island.
You can also visit the Bajo settlement at Kabalutan. Formed by volcanic activity, the island is covered by lush vegetation and wooded, and surrounded by coral reef formations. Coral reefs and beaches provide a place for some marine animals to live and breed, such as green turtles, etc..
Jumat, 05 Maret 2010
CENTRAL SULAWESI TOURISM
| ||
| | ||
Minggu, 22 Februari 2009
Hutan Wisata Danau Lindu
Hutan Wisata Danau Lindu termasuk dalam kategori wilayah Enclave Lindu dan termasuk bagian dari Wilayah Kecamatan Kulawi yang secara Geografis terletak di dalam Kawasan Taman Nasional Lore Lindu, oleh karena itu semua desa di wilayah ini berbatasan langsung dengan TNLL. Wilayah yang sering disebut Dataran Lindu ini dikelilingi oleh punggung pegunungan sehingga sulit untuk dijangkau oleh kendaraan bermotor, memiliki 4 ( empat ) desa yaitu desa Puroo, Desa Langko, desa Tomado dan desa Anca. Ke-empat desa ini terletak di tepi danau Lindu yang cukup terkenal keindahannya. 
Di wilayah yang berpenduduk dengan luas wilayah ini juga terkenal dengan Laboratorium untuk pemeriksaan penyakit yang disebabkan oleh sejenis cacing Schistosomiasis yang hanya bisa hidup melalui perantaraan sejenis keong endemik yang juga hanya hidup dibeberapa tempat di dunia. Danau Lindu dimasukkan ke dalam kelas danau tektonik yang terbentuk selama era Pliocene setelah bak besar dilokalisasi dari sebuah bagian rangkaian pegunungan. Merupakan danau terbesar kedelapan di Sulawesi dari segi wilayah maksimal permukaannya. Danau ini biasa dikatakan melingkupi sekitar 3.488 ha.
Pada ketinggian sekitar 1.000 m danau ini merupakan badan air terbesar ke-dua dari pulau ini (yang lebih kecil, Danau Dano hanya 50 m lebih tinggi). Daya tarik Hutan Wisata Danau Lindu adalah Keindahan panorama pegunungan dan pemandangan danau, khususnya bagi wisatawan pejalan kaki dan pendaki gunung. Danau Lindu terkenal dengan melimpahnya ikan dan merupakan habitat bagi berbagai macam tumbuhan dan hewan yang kini mulai berkurang keanekaragamannya karena menurunya populasi species serta hilangnya beberapa spesies Seperti Burung Tokoku dan Tanaman Rano.

Di wilayah yang berpenduduk dengan luas wilayah ini juga terkenal dengan Laboratorium untuk pemeriksaan penyakit yang disebabkan oleh sejenis cacing Schistosomiasis yang hanya bisa hidup melalui perantaraan sejenis keong endemik yang juga hanya hidup dibeberapa tempat di dunia. Danau Lindu dimasukkan ke dalam kelas danau tektonik yang terbentuk selama era Pliocene setelah bak besar dilokalisasi dari sebuah bagian rangkaian pegunungan. Merupakan danau terbesar kedelapan di Sulawesi dari segi wilayah maksimal permukaannya. Danau ini biasa dikatakan melingkupi sekitar 3.488 ha.
Pada ketinggian sekitar 1.000 m danau ini merupakan badan air terbesar ke-dua dari pulau ini (yang lebih kecil, Danau Dano hanya 50 m lebih tinggi). Daya tarik Hutan Wisata Danau Lindu adalah Keindahan panorama pegunungan dan pemandangan danau, khususnya bagi wisatawan pejalan kaki dan pendaki gunung. Danau Lindu terkenal dengan melimpahnya ikan dan merupakan habitat bagi berbagai macam tumbuhan dan hewan yang kini mulai berkurang keanekaragamannya karena menurunya populasi species serta hilangnya beberapa spesies Seperti Burung Tokoku dan Tanaman Rano.
Gema pelestarian lingkungan membahana kemana-mana. Namun di Dataran Lindu, sebuah pelosok sekitar 120 kilometer ke timur Sulawesi Tengah atau di sekitar kawasan Danau Lindu, masyarakatnya sudah memiliki tradisi untuk menjaga lingkungannya.
Kamis (5/6/2008) lalu, sebuah kegiatan adat yang difasilitasi The Nature Conservancy (TNC) digelar dalam rangka pelestarian lingkungan tersebut. Kegiatan bernama Kapotia Nulibu Ada atau permusyawaratan adat itu menghadirkan para tetua adat. Pokok bahasannya adalah bagaimana menjaga lingkungan dengan menegakkan hukum adat yang telah berlaku turun-temurun.
Ketua-ketua adat dari empat desa yang masuk dalam kawasan tersebut duduk bersila dipimpin seorang tetua yang membawahi ketua-ketua adat dari empat desa tersebut. Mereka mendiskusikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan setiap individu dalam kaitan interaksi sosial dan lingkungannya. Tak hanya itu, sanksi-sanksinya juga ikut ditetapkan.
Mereka saling berbagi dan kerapkali harus berdebat untuk mencapai sebuah kesepakatan
yang nantinya akan menjadi pedoman hubungan sesama manusia dan kepada lingkungan. Salah satu poinnya adalah, barangsiapa yang ditemukan menebang pohon akan dikenakan sanksi berupa gant rugi satu ekor kerbau. Kesepakatan lainnya, siapa yang ditemukan menangkap ikan di Danau Lindu ketika sedang dalam masa umbo (moratorium penangkapan) juga akan didenda satu ekor kerbau.
Tak sekadar membuat kesepakatan, kesepahaman itu disakralkan dengan menyembelih seekor kerbau hitam yang darahnya akan digunakan sebagai tinta untuk cap jempol lima jari pada kain putih. Semua pemuka adat harus melakukan cap jempol sebagai tanda persetujuan penegakan hukum adat. Siapapun yang melanggar akan disanksi sesuai kesepakatan itu.
Daging kerbau yang telah disembelih dimasak ramai-ramai yang kemudian disajikan untuk dinikmati secara bersama-sama. Ketegangan, kerisauan dan bahkan kecemasan dalam proses pencapaian kesepakatan, hilang dengan serta merta ketika sajian makanan dihamparkan oleh putri-putri warga setempat.(p!)
Kamis (5/6/2008) lalu, sebuah kegiatan adat yang difasilitasi The Nature Conservancy (TNC) digelar dalam rangka pelestarian lingkungan tersebut. Kegiatan bernama Kapotia Nulibu Ada atau permusyawaratan adat itu menghadirkan para tetua adat. Pokok bahasannya adalah bagaimana menjaga lingkungan dengan menegakkan hukum adat yang telah berlaku turun-temurun.
Ketua-ketua adat dari empat desa yang masuk dalam kawasan tersebut duduk bersila dipimpin seorang tetua yang membawahi ketua-ketua adat dari empat desa tersebut. Mereka mendiskusikan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan setiap individu dalam kaitan interaksi sosial dan lingkungannya. Tak hanya itu, sanksi-sanksinya juga ikut ditetapkan.
Mereka saling berbagi dan kerapkali harus berdebat untuk mencapai sebuah kesepakatan
yang nantinya akan menjadi pedoman hubungan sesama manusia dan kepada lingkungan. Salah satu poinnya adalah, barangsiapa yang ditemukan menebang pohon akan dikenakan sanksi berupa gant rugi satu ekor kerbau. Kesepakatan lainnya, siapa yang ditemukan menangkap ikan di Danau Lindu ketika sedang dalam masa umbo (moratorium penangkapan) juga akan didenda satu ekor kerbau.
Tak sekadar membuat kesepakatan, kesepahaman itu disakralkan dengan menyembelih seekor kerbau hitam yang darahnya akan digunakan sebagai tinta untuk cap jempol lima jari pada kain putih. Semua pemuka adat harus melakukan cap jempol sebagai tanda persetujuan penegakan hukum adat. Siapapun yang melanggar akan disanksi sesuai kesepakatan itu.
Daging kerbau yang telah disembelih dimasak ramai-ramai yang kemudian disajikan untuk dinikmati secara bersama-sama. Ketegangan, kerisauan dan bahkan kecemasan dalam proses pencapaian kesepakatan, hilang dengan serta merta ketika sajian makanan dihamparkan oleh putri-putri warga setempat.(p!)
Gadis Lindu melayani para tetua adat yang sedang mencari kesepakatan.
Pembahasan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Setelah kesepakatan tercapai.
Seekor kerbau dipotong menandai tercapainya kesepakatan.
Cap jempol lima jari yang sudah dilumuri darah kerbau sebagai tanda persetujuan atas kesepakatan.
Beramai-ramai mempersiapkan hidangan daging kerbau.
Makan bersama, ketegangan pun sirna.
